Ahmad Dhani Sebagai Musisi Saja

Recomended


Pagenews.co - Tanggal 5 Desember 2016, Jendral Tito Karnavian mengumumkan beberapa nama yang ditangkap karena terkait isu makar. Ada hal yang menarik dalam pengumuman nama itu, selain orang-orang yang memang dikenal sebagai aktivis, dalam listname tersebut terdapat sebuah nama yang tak asing bagi kita nama tersebut adalah Ahmad Dhani. 

Seorang musisi yang akhir-akhir ini mulai surut karya-karyanya dan sepertinya lebih senang berenang di kolam politiknya. Sebelum melihat sejauh mana Dhani bisa menyelam di kolam politik, mari kita tekan tombol review di remot tv kita. 

Lima-enam-atau beberapa tahun lalu (khususnya di tahun 90-an dan tahun 2000 awal), Ahmad Dhani adalah seorang musisi yang sangat produktif. Ini bisa dilihat dari beberapa karya yang telah dihasilkannya. 

Berawal di tahun 1986, Dhani bersama teman-teman SMA-nya (Erwin, Andra dan Ari lasso) membentuk sebuah group band dan enam tahun setelahnya mereka menerbitkan sebuah album dengan judul sama dengan nama bandnya sendiri: Dewa 19.

Setelah debut album tersebut, Dewa 19 mulai menancapkan taringnya di industri musik Indonesia. Format Masa Depan (1994),Terbaik-Terbaik (1995), Pandawa Lima (1997), The Best of Dewa19 (1999), Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Atas Nama Cinta I&II (2004), Laskar Cinta (2004), Republik Cinta (2006), Kerajaan Cinta (2007), total sebelas album yang telah dewa 19 luncurkan. 

Dari sebelas album tersebut, bisa dibilang Ahmad Dhani lah otak dari semua album itu, dia yang paling banyak menyumbangkan lagu dan konsep album tersebut. 

Sebagai seorang musisi Ahmad Dhani adalah seorang maestro Bukti lainnya adalah salah satu album mereka: Bintang Lima, album tersebut mencapai penjualan 1,8 juta kopi dan mendapatkan lima penghargaan dari anugerah musik Indonesia (penghargaan tertinggi ajamg musik saat itu) album tersebut bisa disebut adalah album tersukses sepanjang karir Dewa19. Jika kurang, fakta bahwa Ahmad Dhani pernah memproduseri album dewasa Agnes Mo, Reza Artamafia, dan keikut sertaannya dalam meregenerasi penyanyi Indonesia melalui perannya sebagai juri di berbagai ajang pencarian bakat adalah pembuktian bahwa namanya bukan sekedar figuran dalam dunia permusikan Indonesia. Dari segi musikalitas kita sudahi sampai di sini saja.

Mari kita ambil remot tv dan pindahkan ke chanel tentang penangkapan Ahmad Dhani terkait isu makar tadi. Penangkapan Dhani terkair isu makar bisa dikatakan tidak terduga sama sekali, tapi beberapa kalangan menilai itu adalah sesuatu yang sudah sepantasnya terjadi. 

Jika kita melihat beberapa cuitan Dhani melalui akun twitternya, kita bisa melihat bahwa Dhani sepertinya memang kontra sekali dengan pemerintahan (khususnya presiden), bukan hanya presiden, Dhani juga sering menyindir bahkan dengan terang-terangan menjadi kubu yang kontra ahok. Seperti cuitan berikut: “Indonesia akan utuh bila ahok dipenjara-ADP” Cuitan tersebut ia tulis pada tangggal 20 oktober 2016 yang kemudian mendapatkan like sebanyak189 dan retweet sebanyak146 kali. Bahkan Dhani sempat dilaporkan atas dugaan penghinaan presiden melalui orasinya saat ikut demo pada tanggal 4 desember 2016.

Walaupun sempat ditangkap, namun pada akhirnya Dhani dibebaskan dua hari setelahnya. Kesuksesan Dhani dalam dunia musik tidak berbanding lurus dalam karir kepolitikannya. Pada awal Februari tahun lalu, Dhani sempat digadang-gadang akan mencalonkan diri sebagai bakal calon gubernur DKI oleh partai pengusungnya yaitu PKB. 

Saat itu, Ahmad Dhani yang bergaya rambut model mohak itu dinilai sebagai figur NU tulen dan mempunyai value untuk bisa menjadi gubernur DKI, hal itu disampaikan oleh Hasbiallah ketua dewan PKB Jakarta di rumah Dhani sendiri (Rabu, 10-02-2016). 

Tak hanya itu Dhani juga sempat diberitakan menemui Muhaimin (Jumat, 11-03-2016) yang notabene adalah ketua umum PKB guna membahas pencalonanya nanti untuk DKI 2017 nanti Dhani makin percaya diri pun makin jahat, hal itu bisa dilihat kembali di akun twitter pribadinya. 

Dia seperti lolongan burung hantu yang menakutkan di malam hari tetapi malu pada siang hari. Rajin bercuap-cuap tapi nihil bukti. Namun seperti plottwist dalam drama Korea, PKB pada akhirnya melabuhkan dukungannya kepada pasangan Agus-Silvi yang juga diusung oleh Demokrat, PPP, PKN dan PAN. 

Dengan demikian harapan Dhani untuk menduduki kursi DKI satu itu menjadi sama dengan lagu yang diciptakannya: pupus, jangankan menjadi DKI satu menjadi calonnya pun belum kesampaian. Malangnya sang maestro. Beberapa bulan setelahnya, datang sebuah kabar baik.

Kabar tersebut sepertinya akan menjadi tsunami yang bisa menyapu puing-puing luka hati Dhani sebelumnya. Dhani yang sebelumnya dipermainkan oleh PKB diminta oleh PKS untuk mendampingi Sa’duddin guna mencalonkan diri pada pemilu Bupati kabupaten Bekasi. Selain PKS, di sana juga berdiri Gerinda, Hanura dan PAN sebagai partai pendukungnya. 

Iming-iming yang jelas nyatanya. Bendera Ahmad Dhani kembali berkibar, puncaknya ia mendeklarasikan dirinya maju pada pertarungan pemilu Bekasi itu pada tanggal 18 september 2016. Bersama pasangannya ia memperoleh nomor urut dua dari lima pasangan lain. 

Sejak tanggal itu (hingga tulisan ini dibuat) Dhani masih disibukan oleh kegiatan kampanyenya, kampanye dan kampanyenya. Walalupun kadang makan gado-gado juga ia sebut sebagai kegiatan berkampanye. 

Kllimaks bahwa akhirnya Dhani benar-benar menjadi seorang calon politikus mungkin adalah sebuah taman bunga untuk hati Dhani sendiri, tapi tidak untuk penggemarnya dalam jalur musik. Hal itu seakan-akan seperti air comberan untuk badan mereka. Jangan ditanya karya, sebab kita tak mungkin sudi terkena air comberan yang bacin. 

Karya Dhani yang paling bontot ( yang ia deklarasikan melalui akun twitternya) berjudul IMAN. Lagu itu ia upload melalui youtube, dan... jangan tanya lagi bagaimana kualitasnya. Jika telinga kita terbiasa oleh syair-syair cinta nan mistik ala Dewa19, lagu terebut seperti sayur asam yang rasanya hambar sekali, atau kalaupun mempunyai rasa, lagu itu seperti sayur yang telah ditambahkan garam dua ton sedangkan sayurnya hanya satu wajan.

Kalau sudah seperti itu, apakah sang maestro telah luntur ilmu kanuragannya, atau ide-ide musiknya telah menyublim seperti kapur barus terkena udara. Atau ia memang telah membelah diri menjadi dua. Induknya seorang pemusik yang begitu handal dan kemungkinan besar telah mati, kemudian Ahmad Dhani yang kita kenal sekarang adalah embrio yang berbeda.

Entahlah. Pada akhirnya, blantika musik indonesia wajib berkabung atas kepergian atau berubah haluannya seorang Ahmad Dhani. Tapi, mungkin jika kita (khususnya saya) boleh berpendapat, baiknya Ahmad Dhani kembali memegang gitar saja, menekan tuts piano dan mulai menulis lirik lagu dan mulai membangun peradaban dan kerajaannya sebagai musisi kembali. Dhani sebagai musisi saja. (Kompasiana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ahmad Dhani Sebagai Musisi Saja"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?