Ahok Bak Eric Cantona di Manchester United

Recomended


Sulit menghindar dari penilaian sebagian orang bahwa Ahok adalah sosok penuh kontroversi. Karakter Ahok yang reaktif dan spontan meledak ledak dalam menyampaikan pikirannya bukan sekali dua kali memunculkan pro kontra.

Lawan Ahok bahkan menuding karakter Ahok berpotensi memancing konflik sosial. Sudah sifat bawaan yang sulit diubah. Karakter temperamen tinggi ini adalah kekuatan Ahok sekaligus kelemahannya.
Ini yang membuat pendukung dan penolak Ahok sama banyaknya. Kita merasakan pembelahan dalam alur percakapan di lini massa beberapa bulan belakangan ini. Terlebih sejak kasus dugaan penistaan agama diekspos massiv oleh lawan Ahok.

Setahun lalu saya beberapa kali menulis artikel pendek tentang karakter Ahok ini suatu waktu akan memakan dirinya sendiri. Teori Manajemen Keselamatan Kerja saya pakai untuk mengukur tingkat kemungkinan kejatuhan Ahok karena omongannya.

Saya menulis tentang penelitian keselamatan kerja bahwa dari 9 kali nyaris kecelakaan di tempat kerja, maka nyaris yang ke 10 dipastikan akan menjadi kecelakaan kerja. Itu sebabnya dalam pabrik atau industri yang berisiko tinggi setiap temuan nyaris kecelakaan akan dievaluasi dan dicari preventive action atau sistem pencegahannya.

Saya memberanikan menulis di medsos tentang hal itu. Saya meminta Ahok cool, tenang, menjaga lisannya dan tidak reaktif jika diserang. Saya pikir banyak juga lingkaran terdekat Ahok memberi pandangan dan saran yang sama. Agar Ahok mengubah karakternya yang suka main geber gas kencang jika berhadapan dengan lawannya. Padahal bisa saja lawannya memancing emosi Ahok.

Sebenarnya situasi kebatinan publik sudah cukup bagus sebelum sidang ke 8 kemarin. Namun tiba tiba berubah konstelasinya. Ahok yang rebound mendadak bikin situasi pemilih yang tadinya kembali berbalik ke Ahok kini berubah lagi arah anginnya. Pasalnya omongan Ahok di pengadilan melukai perasaan kalangan Nadliyin. Nadliyin tidak terima Ahok mengancam Rais Am NU Kyai Maruf Amin.

Sosok Ahok ini mirip dengan pemain sepakbola kesayangan klub Machester United Eric Cantona. Cantona pemain hebat yang memiliki skil mumpuni. Sayangnya Cantona memiliki watak temperamental tinggi.

Pantang gak diledek, tendangan kungfunya bakal menerjang. Penonton Crystal Palace pernah merasakan tendangan kungfu Cantona. Akibatnya Cantona kena skorsing.

Eric Cantona adalah dinamit bersumbu pendek. Mudah meledak. Kartu merah Eric Cantona ketika menghadapi Crystal Palace pada tahun 1995 sudah bisa diduga. Namun apa yang terjadi setelah insiden kartu merah tersebut benar-benar jadi salah satu momen yang sulit dilupakan dalam sejarah sepak bola.

25 Januari 1995, Eric Cantona memimpin Manchester United menghadapi tuan rumah Crystal Palace di Selhurst Park. Dalam laga itu, Cantona mendapatkan provokasi-provokasi dari bek Palace, Richard Shaw.

Cantona beberapa kali melontarkan protes pada wasit Alan Wilkie karena ia terus dijegal oleh Shaw namun tetap tak ada kartu kuning untuk Shaw. Bukan hanya Cantona yang merasa diperlakukan tak adil, Alex Ferguson pun melihat hal itu dengan jelas.

Cantona sudah tak tahan dengan ketidakadilan yang diterimanya. Dalam sebuah pergulatan dengan Shaw, Cantona menendang sang lawan. Wasit Alan Wilkie tak melihat, namun hakim garis Eddie Walsh menyaksikannya dengan baik.

Wasit kemudian memberikan kartu merah pada Cantona. Kartu merah Cantona diiringi oleh adu mulut beberapa pemain Manchester United dan Crystal Palace.

Cantona tak percaya dengan apa yang ia dapatkan, namun akhirnya menerima keputusan wasit. Ia menurunkan kerah bajunya yang biasa dibiarkan berdiri tegak sebagai salah satu ciri khas dirinya.

Kartu merah yang diterima Cantona bukan sebuah hal yang istimewa karena ia sering mendapatkannya. Cantona sering lepas kendali dan pemain yang akrab dengan hadiah kartu dari wasit.

Dan pada akhirnya Cantona tetap berhasil mengejutkan dunia. Saat tengah berjalan menuju ruang ganti, Cantona mendapatkan ejekan dari seorang pendukung Palace bernama Matthew Simmons. Simmons disebut berlari menuruni 11 anak tangga untuk mengejek Cantona.

“Sialan! Kembalilah ke Perancis!” teriak Simmons.

Simmons mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu perhatian dari Cantona. Yang tak diduga oleh Simmons, ejekannya bukan hanya didengar langsung oleh Cantona, melainkan juga berbalas sebuah tendangan ala kungfu ke arah dadanya.

Cantona sempat terjatuh usai melepaskan tendangan terbang tersebut. Namun Cantona kemudian kembali berdiri dan melayangkan rangkaian pukulan ke arah Simmons sebelum akhirnya dilerai oleh banyak pihak.

Bukan hanya pemain Manchester United dan Crystal Palace yang terkejut. Bukan hanya penonton yang memadati Selhurst Park yang terkejut. Di hari itu, 25 Januari 1995, seluruh dunia terkejut. Pembicaraan yang ada bukan tentang hasil akhir, melainkan tentang bagaimana kungfu Cantona yang mendarat di dada suporter Palace.

Setelah pertandingan tersebut berakhir, Ferguson sendiri langsung menegur Cantona. Rekan setim Cantona, Lee Sharpe, ingat bagaimana jawaban Cantona ketika Ferguson bertanya tentang tindakan kontroversialnya itu.

Seiring pembicaraan tentang tendangan kungfu Cantona yang terus memakan waktu berhari-hari, Cantona pun juga wajib menghadapi konsekuensi atas perbuatannya di hari-hari berikutnya.

Pemain asal Perancis ini bahkan sempat menghadapi tuntutan hukuman penjara dua minggu meskipun akhirnya ia terbebas dari tuntutan itu. Cantona mendapatkan hukuman larangan bermain hingga bulan September 1995 dan juga kerja sosial.

Tanpa Cantona di lapangan, United akhirnya kalah bersaing dengan Blackburn Rovers dalam perburuan titel Liga Primer Inggris.

Masa-masa hukuman Cantona juga merupakan masa yang berat bagi mantan pemain Auxerre itu lantaran ia bahkan tak boleh ikut dalam laga persahabatan. Cantona sempat berpikir untuk melanjutkan karier di luar Inggris setelah hukumannya berakhir. Namun Ferguson pada akhirnya sukses meyakinkan Cantona untuk tetap berada di Old Trafford.

Dan pada akhirnya Cantona merasakan bahwa pilihannya untuk bertahan di Manchester United sebagai sebuah keputusan yang tepat. Dengan segala kontroversi yang dibuatnya, kembalinya Cantona ke lapangan pada 1 Oktober 1995 ibarat sebuah perayaan hari besar.

Wajah Cantona dan bendera Perancis terpampang di setiap sudut kota Manchester. Duel Manchester United lawan Liverpool jadi panggung yang pas untuk menyambut kembalinya ’Sang Raja’.

Cantona mendapat tepuk tangan meriah saat turun ke lapangan dan suporter ’Setan Merah’ terus menyanyikan namanya. Cantona kemudian membalas sambutan meriah itu dengan gol yang menyelamatkan United dari kekalahan di hadapan Liverpool.

Seolah tanda penebusan dosa, Cantona kembali tampil apik di musim 1995/1996 dan 1996/1997, serta jadi motor yang memimpin United juara Liga Primer Inggris. Keputusan mengejutkan kemudian dibuat Cantona yang memilih pensiun di akhir musim 1996/1997 saat usianya baru 30 tahun.

Hari ini, publik Jakarta adalah pelatih. Pelatih yang akan menggunakan kekuasaannya untuk memilih siapa Kapten Jakarta 1. Ahok bukanlah manusia sempurna. Banyak kekurangannya.

Kekurangannya adalah genetika temperamental yang dimilikinya itu sudah ada sejak orok. Bawaan lahir. Untungnya temperamentalnya itu dia ledakkan untuk melawan begal garong APBD dan birokrat korup di Pemprov DKI. Selebihnya temperamental Ahok sering off side dalam menanggapi yang tak perlu saat sedang berpidato atau wawancara.

Pada tanggal 15 Februari mendatang seluruh warga Jakarta akan menjadi pelatih yang akan menentukan nasib Ahok. Apakah pemilih Jakarta tetap memilih Ahok sebagi Kapten Jakarta 1 ataukah mengirimkannya pulang kandang seperti sesumbar Anies Baswedan.

Saya akan memilih intuisi seperti Sir Alex Ferguson yang selalu percaya pada kemampuan Eric Cantona untuk memenangkan Liga Premier Inggris. Syaratnya adalah Eric Cantona diberikan kepercayaan kedua untuk memimpin pasukan MU.

Akhirnya Eric Cantona membayar kepercayaan Sir Alex dan pendukung MU. Terbukti Cantona berhasil memberi gelar bergengsi bagi MU dan pendukung MU menjuarai dua kali Liga Inggris.

Bagi saya, karakter temperamental saat melawan perampok itu lebih baik dibanding berkarakter santun tapi bermesraan dengan perampok uang pajak rakyat Jakarta. Sama halnya seperti Eric Cantona. Manusia bisa berubah, karena manusia bukan terbuat dari batu.

Ahok bertipe pekerja keras dan petarung. Di benaknya hanya ada satu jalan. Melayani warga Jakarta sepenuh akal dan kekuatan. Sekalipun berseberangan dengan banyak kepentingan lain.

Sama seperti Fergie yang tetap memberikan kepercayaan pada Cantona, saya akan tetap memberikan kepercayaan kepada Ahok untuk menjadi Kapten Jakarta 1.

Saya percaya Kapten Ahok akan memenangkan treble winner bagi seluruh warga Jakarta. Jakarta yang bersih, transparan dan profesional.

Salam
Birgaldo Sinaga

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ahok Bak Eric Cantona di Manchester United"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?