Ahok Mirip Son Goku Saat Satu Persatu Musuhnya Kalah

Recomended


Apabila kita menonton satu pertandingan sepakbola, maka lebih dahulu sekali kita mesti pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu. Kalau tidak begitu bingunglah kita. Kita tak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak

Tulisan Tan Malaka dalam Madilog puluhan tahun silam tersebut, seperti sebuah mantra sakti yang mampu meramal kejadian yang akan datang, yaitu kejadian yang terjadi akhir akhir ini. Seperti yang anda saksikan, banyak terjadi pertandingan yang semakin tidak jelas aturan mainnya. atau sengaja dilanggar oleh pemainnya. Akibatnya, pertandingan tidak akan berlangsung sesuai aturan main.
Begitu juga dengan apa yang terjadi dalam suasana persidangan ke-8 kasus penistaan agama dengan tersangka Ahok. Persidangan saat itu mengagendakan keterangan dari seorang saksi yang memiliki jabatan sebagai Ketua MUI. Bedanya, dalam pertandingan (persidangan) Ahok, pertandingan sudah berlangsung dengan benar sesuai aturan main dari wasit yaitu Yang Mulia Hakim. Akan tetapi masalah lebih besar justru muncul seusai persidangan. Tiba-tiba bermunculan orang-orang yang mendadak menyalahkan aturan main dalam persidangan. Lebih khusus, yang disalahkan adalah pemainnya, siapa lagi kalau bukan Ahok. Pokoknya Ahok itu tempatnya salah dan dosa.

Tidak cukup melihat kelelahan Ahok dalam menanggung beban mental atas status tersangka yang disandangnya, kelompok manusia yang sepertinya baru terkena hipnotis masal, mereka berteriak sengit,

” Ahok kurang sopan!”

“Ahok menista Ulama dan lain-lain !”

Kebencian mereka terhadap Ahok sudah membubung tinggi memenuhi udara di sekeliling mereka, memenuhi langit, sehingga sudah tidak bisa lagi dibersihkan dengan alat apapun, karena mereka sudah telanjur membenci Ahok.

Kembali ke persidangan. Saat itu, jalannya persidangan berlangsung sengit. Dialog berjalan cukup alot karena saksi terus mengelak ketika menerima pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ahok dan tim pengacaranya. Ahok dan TIm pengacara terus menanyakan apakah Saksi dan SBY pernah bertemu atau berkomunikasi, namun Saksi menyatakan tidak pernah. Meskipun demikian, Hakim sebagai wasit tetap membiarkan perdebatan tersebut berlangsung. Ibarat wasit sepak bola, Hakim tidak membunyikan peluit, karena tidak ada tidak ada pelanggaran atau handsball. Artinya, tidak ada yang keliru dalam proses persidangan, termasuk sikap dan pertanyaan Ahok terhadap saksi yang juga ketua MUI. Termasuk ketika ia mencecar pertanyaan pada Saksi dengan menyebut nama SBY.

Di luar dugaan, bola panas yang suhunya melebihi suhu dalam ruang persidangan justru menggelinding ke luar sidang, membesar seperti energi Kamehameha nya Son Goku. Menghantam orang-orang yang sok bela-bela Saksi. seperti yang anda baca pada pelbagai media, setelah persidangan usai, orang-orang di luar “pertandingan” Sidang ke-8, memaksa dan menyalahkan Ahok, sehingga Ahok akhrinya minta maaf kepada Saksi. Permintaan maaf tersebut sudah diterima Saksi, sehingga sebenarnya sudah tidak ada masalah lagi. Selanjutnya, energi kamehameha tersebut berakhir dengan ledakan tepat di hadapan Sang Mantan Presiden sebelum ini, SBY. SBY merasa tersinggung ketika namanya disebut dalam ruang sidang.

Tentu saja menerima energi kamehameha yang cukup besar tersebut, SBY merasa kepanasan. Untuk mendinginkan rasa panasnya tersebut, SBY menggelar konferensi pers. Ini mungkin sudah menjadi kebiasaan sejak masih menjabat sebagai Presiden.

Dalam konferensi pers tersebut SBY tidak terima namanya disebut-sebut Ahok dan tim pengacaranya ketika dalam persidangan. SBY mengatakan dengan panjang lebar segala uneg-unegnya. Intinya, SBY merasa dizalimi karena dituduh ini ituh, disadap, dituduh mau ngebom dan sebagainya. Anehnya jalannya ucapan SBY yang semula mengarah pada Ahok lalu berbelok pada Presiden

Apapun yang diucapkan SBY, peristiwa ini menandai dimulainya babak baru dari pertandingan-pertandingan yang harus dilewati Ahok untuk naik ke level-level yang lebih tinggi. Ini mirip seperti kisah Son Goku yang aslinya adalah imigran dari planet Seiya. Demi meningkatkan kesaktian dan melindungi bumi, awalnya Son Goku hanya melawan musuh-musuh ecek-ecek kemudian meningkat dengan melawan musuh yang lebih tangguh,Bejita. Kemudian dengan melawan Cell. Kemudian yang terakhir, Son Goku harus menghadapi musuh yang sangat berat yaitu, Boo. Dengan susah payah, Son Goku berhasil menghabisi Iblis Boo dengan bantuan energi bumi.

Konferensi pers yang digelar SBY tersebut menambah satu lagi sekelompok masyarakat yang tidak menghargai kewibawaan pengadilan di Indonesia. Kita sebelumnya kita sudah disuguhi kabar “kekurangpercayaan” terhadap wibawa pengadilan yang dilakukan oleh orang-orang yang sok membela Saksi atas perbuatan Ahok selama persidangan. Jika mereka menghargai, seharusnya tidak perlu bereaksi berlebihan atas apa yang terjadi di ruang sidang.

Baik SBY maupun orang-orang yang bermaksud membela saksi seharusnya mengerti dan paham bahwa Ahok tidak melakukan kesalahan sedikitpun saat menanyai saksi. Apa yang dilakukan oleh Ahok dan pengacaranya tersebut adalah dalam rangka mencari kebenaran. Lagipula Hakim tidak menghentikan perdebatan antara Ahok dan Saksi yang juga ketua MUI. Sekali lagi, perdebatan sudah sesuai aturan main pengadilan.

Cercaan pertanyaan Ahok terhadap Saksi tersebut mengingatkan saya pada Sarah Sunhil seorang anggota t CI-D (Criminal Investigation Division) Amerika Serikat. Ia diberi wewenang untuk menangani kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap Elizabeth ( putri seorang Jenderal) yang terjadi dalam lingkungan kemiliteran. Berdasarkan penyelidikannya, ia sudah menduga, siapa pelakunya.

Melalui tipuan yang sangat cerdik, ia mendatangi Bradsford dengan membawa sebuah celana dalam, sambil memegang celan dalam tersebut ia mengatakan bahwa DNA seseorang yang menempel di sebuah celana dalam masih bisa diidentifikasi, Sarah akhirnya mendapat pengakuan dari Bradsford tentang peristiwa pemerkosaan yang terjadi di West Point 7 tahun yang lalu. Padahal celana dalam yang dibawa Sarah itu baru saja dibelinya dari sebuah supermarket terdekat.

Meskipun terjadi dalam film Generals Daughter, cerita tersebut cukup memberi gambaran bahwa untuk mencari kebenaran, baik dalam penyelidikan maupun dalam persidangan, diperbolehkan untuk mengajukan berbagai macam pertanyaan.

Jadi, reaksi SBY yang tersinggung terhadap ucapan Ahok dalam persidangan sebenarnya adalah reaksi yang kurang tepat sebab Ahok hanya ingin mencari kebenaran dengan mencecar pertanyaan, entah itu berupa pertanyaan yang menjebak atau jenis pertanyaan apapun.

Beruntung Presiden tidak bersikap reaktif meskipun sebenarnya saya yakin, beliau geregetan juga dengan konferensi pers yang digelar SBY. Biarlah Ahok saja yang menghadapi SBY.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ahok Mirip Son Goku Saat Satu Persatu Musuhnya Kalah"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?