Aksi Bela Ulama. Membela dari Apa?

Recomended


Sesudah agak bosan mendengar berita “Aksi Bela Islam” beberapa waktu belakangan ini, hari ini di berbagai daerah di Indonesia, rupanya dipertontonkan lagi aksi yang kurang lebih sama, “Aksi Bela Ulama”. Misalnya, di Sumatera Selatan, ribuan orang yang tergabung dalam Aliansi Muslim Nasional Sumatera Selatan (Almunas) bersama Front Pembela Islam (FPI), menggelar aksi damai “Bela Ulama” seusai Salat Jumat (3/2/2017). Aksi tersebut dilakukan di bundaran air mancur atau tepatnya di depan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Di Bandung ribuan massa dari berbagai elemen ormas Islam, ikatan mahasiswa, langsung membentuk barisan memanjang menghadap kantor Gubernur Jawa Barat tersebut. “Pagi hari ini ribuan umat islam berbagai lapisan yang ada di Jawa Barat. Ini adalah bagian dari upaya bela ulama yang dilakukan oleh kami,” kata Asep Saepudin yang merupakan Ketua Aliansi Pergerakan Islam Jabar. Singkatnya, hampir di seluruh kota besar di berbagai provinsi di Indonesia dilaksanakan aksi serupa, dengan judul besar: AKSI BELA ULAMA.
Setelah mendengar berita hari ini, saya kembali membuka KBBI untuk mencari arti dari kata “bela”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “bela” atau “membela” diberi dua arti, yakni:

1) menjaga baik-baik; memelihara; merawat.

2 melepaskan dari bahaya; menolong.

Lalu setelah mengerti dengan baik arti kata tersebut, saya duduk merenung, seraya bertanya-tanya mengapa harus ada “aksi bela ulama”? Ini hasil permenungan saya berkaitan dengan aksi hari ini dalam konteks arti kata “bela”.

Arti nomor satu: menjaga baik-baik; memelihara; merawat: Menjaga baik-baik.

Barangkali orang yang berkeliaran di jalanan hari ini dengan beragam aksesoris fana, mencoba memelihara baik-baik para ulama mereka. Mengapa mereka menjaga dan merawat ulama di jalanan? Saya tidak mengerti! Yang saya mengerti ulama itu tempatnya di Masjid atau di tempat-tempat pengajian atau tempat publik yang dianggap pantas untuk mereka. Apakah sekarang ulama sudah berpindah ke jalan dan trotoar, sehingga para pengikut ulama ini harus turun ke sana untuk memelihara dan menjaga mereka?

Ah…saya masih gagal paham. Mengapa ulama yang tugasnya mulia dan suci ditempatkan dalam koridor yang “sepele” yakni harus dijaga baik-baik dan dipelihara di pinggir jalan? Saya tak bermaksud sedikitpun menghina ulama, sebab bagi saya mereka adalah sahabat Nabi. Justru karena mereka sahabat Nabi, haruslah dijaga, dicintai, dirawat baik-baik di tempatnya. Jangan karena keegoisan belaka, para peserta “aksi bela ulama” menurunkan harga diri dan martabat para ulama dengan membawa nama mereka keluar dari tempatnya. Bagi saya, ulama memang harus dijaga dan harus dirawat, lebih dari itu harus dihormati dan dicintai. Akan tetapi keliru kalau kita merawatnya di luar koridornya. Mungkinkah merawat seorang bayi di rumah sakit, tapi perawatnya turun ke jalan raya? Mungkinkah seorang ibu menjaga anak-anaknya, sementara anaknya di rumah, tapi ibu itu turun ke trotoar?

Arti nomor dua: melepaskan dari bahaya; menolong.

Rupanya ulama hari-hari ini dalam keadaan bahaya, sehingga ada yang bertugas mengerahkan ribuan bahkan jutaan massa untuk membelanya, untuk menolongnya. Jika “membela” diartikan sebagai “melepaskan dari bahaya”, apakah ulama-ulama sekarang ini sedang dijerat atau sedang dalam bahaya sehingga perlu ditolong dan dilepaskan? Dalam kewarasan berpikir, mendengar “aksi bela ulama” spontan bisa disimpulkan bahwa ulama sedang sekarat sehingga mendesak untuk ditolong, mendesak untuk dilepaskan dari bahaya. Sadar atau tidak, “aksi bela ulama” hari ini menempatkan para ulama justru dalam keadaan terpuruk yang perlu dibela. Ironis bukan?

Lagi, kalau kata “bela ulama” diartikan sebagai aksi melepaskan dari bahaya, siapa yang bahaya? Apakah kasus yang menjerat beberapa ulama menjadi pemicu dari aksi hari ini? Jika demikian halnya, ulama di bumi Nusantara ini menjadi sangat kerdil karena disempitkan pada dua tiga sosok belaka. Apakah para ulama sekerdil itu? Ulama adalah kumpulan manusia yang begitu kompleks. Ia bukan satu dua pribadi belaka. Ia terdiri dari jutaan karakter, jutaan jiwa, pikiran dan pandangan, namun hari ini disempitkan dengan dua tiga orang.

Saudara-saudaraku, jangan buat para ulama menjadi kerdil, menjadi tak “bernyawa” karena aksi yang tidak pada koridornya.

Salam Seword…In Carmelo

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aksi Bela Ulama. Membela dari Apa?"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?