( Analisa) Taktik Lawan Politik Jokowi dan Ahok

Recomended


Di dalam ajang pilkada maupun pilpres, kampanye seorang calon pemimpin seharusnya mengajak masyarakat untuk berfikir secara rasional bukan irasional yang hanya bermodalkan janji-janji dan penggiringan opini publik yang tidak sehat yang tentu saja menyesatkan dan membodohi rakyat dengan dalih kepentingan rakyat.

Penggiringan sebuah opini publik tidak lebih dari sebuah pendekatan emosi, akhirnya menimbulkan sebuah asumsi yang mempengaruhi sudut pandang dan tentu saja hal tersebut akan berdampak pada sebuah keputusan yang tidak rasional, hanya berdasarkan kepada sekedar “ perasaan”, perasaan saya begini, perasaan saya begitu, perasaan saya dia itu orang yang baik dan perasaan-perasaan lainnya, dimana perasaan tersebut belumlah tentu sebuah fakta.
Kedekatan secara emosional cenderung menghasilkan suatu pilihan yang membabi buta, karena hal tersebut bisa membuat seseorang tidak lagi berfikir secara objektif. Sebagai contoh, kedekatan emosional seorang ayah dan anak, yang kebetulah sang Ayah adalah seorang pemimpin, karena sebuah kedekatan emosional, maka sang ayah akan cenderung memilih anaknya untuk menggantikannya sebagai pemimpin, walaupun anaknya tersebut sangatlah jauh kemampuannya di dalam memimpin, jika dibandingkan dengan orang-orang yang berada disekitar sang Ayah.

Begitu pula dengan pendekatan kepentingan yang tidak berlaku untuk umum, sehingga menimbulkan suatu ketidak adilan. Sebuah kepentingan tidaklah buruk, jika kepentingan tersebut mewakili kepentingan secara universal dan adil. Contoh buruknya adalah, pendekatan kepentingan yang akan menimbulkan deal-deal yang bersifat hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu saja.

Begitu pula dengan pendekatan yang berdasarkan hanya pada sebuah kesamaan. Kesamaan yang dimaksud disini adalah, kesamaan dalam SARA.

Pendekatan akan sebuah kesamaan SARA, seringkali menghasilkan sebuah slogan atau jargon yang menjadi pembenaran, “ piye-piye uwonge dewe” yang artinya bagaimanapun juga adalah orang kita sendiri.

Fokus mendukung yang hanya memiliki kesamaan SARA, sehingga Jargon “piye-piye uwonge dewe” menjadi sebuah prioritas, secara tidak disadari membuat suatu pendangkalan rasional dan sifat berfikir objektif, istilahnya, dipimpin koruptor tidak apa-apa yang penting seiman, satu suku dan lain-lain.

Di sini saya tanpa tedeng aling-aling akan menjuruskan kepada sebuah kelompok yang yang digunakan untuk kepentingan politik tersebut.

Kelompok-kelompok yang digunakan untuk melakukan pendekatan emosional, tentu saja melakukan sugesti dengan menyentuh titik-titik emosi dengan penggiringan opini publik. Salah satu contoh, penggiringan emosional tentang isu-isu penggusuran yang tidak berprikemanusiaan, walaupun pada kenyataannya yang dilakukan adalah relokasi. Dimana relokasi dilakukan dengan tetap menyediakan tempat tinggal pengganti yang tentunya lebih layak dari tempat sebelumnya. Selain karena melanggar aturan dengan mendirikan tempat tinggal ditempat yang dilarang, relokasi juga dilakukan karena terpaksa,dan tidak ada jalan lain. Relokasi juga dilakukan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, misalnya normalisasi aliran sungai yang memiliki dampak mengurangi banjir.Karena penggiringan opini publik yang menyentuh emosional, kepentingan-kepentingan yang lebih luas dan umum menjadi terabaikan atau tidak diperdulikan.






Contoh lain yang dilakukan kelompok tersebut adalah, pendekatan tentang kesamaan SARA. Trik dengan menyentuh emosional identitas berupa label –label yang sensitif, seperti label agama dan suku, masih menjadi salah satu cara yang efektif untuk membuat orang tidak berfikir secara rasional. Begitu pula dengan pembenturan terhadap suatu label atau paham-paham yang dianggap sesat, juga menyebabkan rasionalitas menjadi tergadaikan dan tertutup dengan sifat sensitif yang selalu pencuriga. Contohnya seperti penggodokan tentang tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak seiman, penggodokan tentang isu PKI, dan penggodokan isu tenaga kerja asing membuat kerja nyata atau hasil dari suatu kebaikan menjadi terabaikan dan tidak dinilai.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "( Analisa) Taktik Lawan Politik Jokowi dan Ahok"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?