Dosa Tidak, Jika ada #RizieqTidakLayakJadiHabib

Recomended


19 Jan 2017. Mulutmu harimau mu, itulah pribahasa yang masih relevan hingga saat ini,Rezieq selalu saja berkoar-koar dan nyir-nyir tanpa bukti, jika ada bukti, bukti tersebut menurut saya tidak lebih dari bukti ala cocoklogi dan cocotlogi.

Di saat saya ingin mengatakan, bahwa saya tidak ingin memanggil Rezieq dengan kata Habib, saya masih mikir-mikir, apakah pemikiranku saja yang salah, walau bagaimanapun perangai dia, tetap dia adalah seorang Habib.
Tetapi kini sepertinya saya sudah mulai banyak temannya, bahwa banyak yang satu pikiran dengan saya, pemikiran tentang gelar Habib yang tidak pantas disandangkan kepada dia, karena dilihat dari perangai dan kearogannya, dengan mudahnya dia katakan bunuh, dengan ungkapan rasis yang mengatakan jangan mau dipimpin oleh pemimpin kafir, atau dengan menyakiti hati dan perasaan umat Kristiani disaat Natal dengan menyebut, Kalo Tuhan beranak, Bidannya Siapa . Selain itu pernyataan-pernyataannya yang tanpa data, dan jika ada data yang disodorkan, tidak lebih dari data pemaksaan cocoklogi dan cocotlogi, seperti ribut-ribut soal palu arit dan kebangkitan PKI.

Kesombongan dan menganggap diri benar dan pintar kembali terlihat didalam ceramahnya dengan menyebut “Jenderal otak Hansip”.

Pernyataan yang sudah jelas menganggap profesi hansip adalah profesi yang rendah, karena kalimat “Jenderal Hansip” digunakan sebagai sindiran yang memiliki makna buruk. Mungkin saya ambil contoh dengan mengatakan “dasar asu”, atau “ dasar anjing” atau ungkapan lainnya “ dasar kirik”, diamana itu sama saja menyamakan orang dengan anjing, dan itu adalah ungkapan penghinaan, jadi dari situ sudah jelas, Rezieq sungguh-sungguh memandang manusia hanya diluarnya, bukan di diri manusianya.

Apakah pantas seorang yang memiliki gelar Habib berbicara melecehkan dan menganggap buruk harkat dan martabat seseorang Cuma karena sebuah profesi dimana profesi atau pekerjaan mereka digunakan sebagai tempat mencari nafkah yang halal?

Bukankah semua yang diciptakan Tuhan didunia ini memang bermanfaat adanya? Berbeda dengan yang ditemukan oleh manusia. Ciptaan Tuhan yang alami memang diciptakan seperti mata rantai yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yang tidak boleh diputus, karena jika diputus akan mempengaruhi yang lainnya, dan itulah sebab akibat. Sebagai contoh, sampah dari dedaunan akan bermanfaat bagi kesuburan tanah, berbeda dengan sampah dari hasil temuan yang berupa plastik. Toh profesi itu adalah label yang diberikan manusia?apakah profesi lebih pentig dari manusianya? Apakah kepandaian dapat diukur dari yang namanya profesi dan lulusan atau pangkat?toh Zaman sekarang ilmu dapat didapat dengan mudah, jadi jangan kaget jika seorang lulusan SMA asal Lampung yang bernama Jim Geovedi yang awalnya beprofesi tidak karuan menjadi orang yang diperhitungkan dunia karena dapat meretas dan menggeser satelit dari orbitnya?Atau bisa dilihat Ibu Susi yang tidak terkena Reshuflle kabinet Jokowi, padahal beliau tidak lulus SMA?

Bukanlah hal yang sepatutnya menghina manusia karena profesi dan tingkat pendidikan, yang digunakan sebagai perbandingan antara yang baik dan buruk. Jika saya kuli, apakah saya pantas dihina?jika saya pemulung, apakah saya pantas dihina dan dibandingkan dengan profesi lain? Apakah profesi yang dianggap terhormat sudah pasti pantas untuk dihormati? Seperti Dimas Kanjeng yang memiliki banyak pengikut?atau seperti A’a Gatot yang banyak pengikutnya dari kalangan selebritis? Atau apakah para Dewan yang terhormat tetap terhormat disaat terjerat kasus korupsi?ahhh sudahlah, mungkin aku yang bodoh, tidak dapat memahami dirimu wahai Rezieq, karena levelmu sudah level Dewa yang maha suci dan benar, sedangan aku baru level kelas coro yang otaknya dikit.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dosa Tidak, Jika ada #RizieqTidakLayakJadiHabib"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?