Eureka: Gara-gara Ahok Saya Menemukan Ayat Ini

Recomended


Setiap kali saya berjalan kaki di depan Lapangan Sismohardjo, Jatinegara, dan jalanan di sekitar Terminal Cililitan (dulu) saya harus berjalan dengan khusuk yang jika tidak, saya bisa-bisa menginjak barang dagangan PKL atau lengan atas sisi kanan saya akan digesek oleh dinding bis kota/angkot yang berjalan pelan sambil mencari penumpang.

Dengan pengalaman seperti ini, setiap kali pemerintah DKI melakukan penggarukan terhadap PKL saya akan langsung mengucapkan syukur atas ketegasan pemerintah Ibukota. Setiap kali mendengar atau melihat perlawanan yang diberikan oleh para PKL, saya selalu teringat akan sebuah hadis yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad asws (alayhi as-shalawatu as-salamu) sendiri akan membelah perut orang yang berani pasang badan untuk menghalangi pembangunan fasilitas umum (tali air ketika itu). Melihat perlawanan yang gigih seperti itu, saya ingin menyampaikan kepada gubernur DKI agar Satpol PP memasang spanduk yang bertuliskan hadis ini ketika Satpol PP melakukan razia.
Perlawanan gigih para terelokasi (kata sebagian orang, tergusur) di Kampung Pulo mengingatkan saya lagi atas hadis tersebut. Saya langsung ambil haltuk (pengenalan untuk padanan, “gadget” dari bahasa Batak “haltu-haltuk,” sesuatu yang terpasang pada sesuatu tetapi apa fungsi utamanya tidak diketahui persis) dan menulis SMS ke SMS Ahok yang berisi saran yang saya maksudkan sebelum ini. Tidak seperti biasanya, kali ini sms saya tidak dibalas dengan ucapan terima kasih oleh mesin pembalas otomatisnya. Oke, mungkin ada masalah di sana.

Belakangan, setiap kali mengiirim sms, setiap kali pula sms saya takberlalas. Tahankanlah badan!

Keinginan saya untuk mencari hal serupa dalam bentuk ayat Qur’an menjadi menggebu-gebu, khususnya setelah seorang bekas pejabat juga pesohor negeri dan yang sering berkhotbah atau memberi pendapat di sejumlah media ikut menjadi pengawal rakyat penyerobot lahan di DKI. Apakah si orang itu belum pernah baca hadis ini atau apakah hadis ini merupakan hadis lemah baginya, saya heran binti binun. “Mungkin ada dalam Qur’an,” pikirku.

Sayangnya, ketika saya coba cari dalam indeks Qur’an

Suasana penggusuran di Kampung Pulo, Jatinegara berlangsung ricuh setelah warga melempar petugas — MTVN/Wanda Indana

susunan saya sendiri (yang jauh lebih cermat dari indeks Qur’an yang pernah saya lihat), rupanya tidak ada atau belum terindeks barangkali. Memang, ada saja hal yang terlewat dimasukkan ke indeks karena pada saat itu kita mungkin belum butuh atau penting bagi kita.

Pencarian berjalan terus.

Sudah menjadi kebiasaan saya, ketika membaca satu ayat, saya selalu berusaha untuk membaca minimum dua halaman, yakni halaman tempat pengambilan ayat yang saya butuhkan ditambah halaman sebelahnya. Nah, entah karena sudah saatnya barangkali, iseng-iseng sambil tiduran setelah mata capek membaca FB, saya menemukan ayat yang sedikit mengena.

Seperti yang saya sebutkan dalam paragraf sebelum ini, rupanya ayat ini pada suatu waktu telah menarik perhatian saya atau penting buat saya, sehingga saya telah menyorot penggalan ayat yang berupa “hendaklah tegakkan keadilan.” Ayat ini lengkapnya ialah sebagai berikut:

“Hai orang-orang beriman, hendaklah tegakkan keadilan, serta menjadi saksi bagi Allah, meskipun atas dirimu sendiri atau ibu-bapamu dan karib-kerabatmu. JIKA PESAKITAN ITU ORANG KAYA ATAU MISKIN, MAKA ALLAH LEBIH MENGETAHUI KEADAAN KEDUANYA. Maka janganlah kamu turut hawa napsu, sehingga kamu tiada berlaku adil. Jika kamu berputar atau berpaling, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.”

Turunnya ayat ini disebabkan (menurut asbat yang dihubungkan dengan al-Suddi: Wakidi) oleh satu kasus yang ditangani oleh Nabi Muhammad asws (alayhi as-shalawatu wa as-salamu) yakni datangnya seorang kaya dan seorang miskin guna meminta tolong agar Nabi asws menyelesaikan pertikaian mereka. Ketika itu, Nabi asws rupanya cenderung hendak berpihak kepada si orang kaya karena Nabi asws merasa si miskin tidak seharusnya mengalahkan si kaya, maka turunlah ayat ini.

Dengan asbab al-nuzul ini di tangan, saya untuk sementara berkesimpulan bahwa dalam lingkungan masyarakat Islam DIHARAMKAN (lembaga fatwa kaleee . . . ) menjadikan keadaan ekonomi para duafa yang jelas-jelas merupakan sekelompok orang (beragama apa pun) penyerobot lahan negara. Artinya, tidak ada ampun bagi para penyerobot lahan negara, hukum harus ditegakkan kepada mereka sebagaimana yang telah diraja-tegakan oleh Ahok, untuk Kampung Pulo, Bukit Duri, dan Kalijodo!

Sikat bleghghghghgh (Allah SWT menyertaimu).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Eureka: Gara-gara Ahok Saya Menemukan Ayat Ini"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?