Lebih Tepat Mengapresiasi Kerja Ahok, Dari Pada Menyudutkannya

Recomended


Sejak nama Ahok dikenal banyak orang karena kinerjanya yang cukup mumpuni dibanding pejabat lain yang selevel dengannya, banyak orang yang mengagumi dan mendungkungnya, tetapi tidak sedikit juga yang menentang dan berusaha menjatuhkan.

Masyarakat yang berangkat dari sikap netral dan tidak terpengaruh oleh perbedaan agama dan suku, begitu melihat perubahan Jakarta yang dipimpin oleh Ahok pasti akan memberikan apresiasi, tetapi masyarakat yang sudah dipengaruhi sikap intoleran terhadap perbedaan agama dan suku akan selalu melihat dan mencari-cari kekurangan Ahok. Sikap intoleran itu menutupi hati nurani dan kewarasan sehingga tidak melihat hal positif yang telah diperbuat gubernur Jakarta ini.
Bahkan akhir-akhir ini para pemuka agama yang semestinya menjadi panutan bagi umatnya dalam menghargai perbedaan, sepertinya ikut terbawa arus para kaum intoleran, mereka tidak mempertimbangkan kemajuan Jakarta yang sungai-sungainya menjadi lebih bersih, dan jauh berkurangnya banjir. Jika kita lihat masalah banjir di jakarta, banjir dulunya menjadi momok disetiap musim hujan, kini berkurang jauh, bahkan dimana daerah lain di Indonesia yang dulu jarang terkena banjir ditahun ini timbul banjir karena curah hujan yang cukup tinggi. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun Jakarta dihantui oleh banjir, hanya Ahok yang baru menjabat gubernur selama kurang lebih tiga tahun, mampu mengurangi banjir dengan cukup signifikan.

Kalau memikirkan kemaslahatan umat, kinerja Ahok cukup membawa banyak kemajuan positif. Bandingkan dengan daerah yang katanya memiliki pemimpin seiman yang tekun membahas moral dan terlihat agamis, adakah kemajuan daerah yang di capai melampaui kemajuan yang dicapai Ahok? Inilah akibat dari pencampur adukan hak dan kewajiban, dimana pemimpin pemerintahan suatu daerah lebih mengurusi agama dan moral pemimpin daerah lain, dan ahli agama serta pemimpin agama lebih mengurusi politik. Biarlah pemimpin pemerintahan mengurusi kemajuan pembangunan fisik untuk kemakmuran hidup masyarakat, sedangkan urusan moral dan pembangunan rohani umat beragama biarkanlah menjadi urusan para pemuka agama, pemimpin pemerintahan hanya memfasilitasi dan mendukungnya. Semua memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri, berjalan beriringan saling bahu membahu akan lebih baik dari pada saling menjatuhkan. Hal ini akan lebih mensejahterakan rakyat dari pada pemimpin banyak bicara moral dan terlihat agamis tetapi daerahnya tertinggal.

Memang moral seorang pemimpin itu penting, tetapi moral pemimpin dalam pemerintahan hanya sebatas contoh teladan (bersifat pasif) dengan menjaganya agar sesuai tuntunan agama, yaitu tidak korupsi, mencuri uang rakyat, selingkuh, dan hal-hal negatif lainnya. Sedangkan memberi pendidikan moral ke masyarakat dan umat adalah urusan pemimpin dan pemuka agama seperti ulama, kyai, pendeta atau biksu. Kerena pemimpin agama moralnya bukan hanya menjadi contoh teladan (bersifat pasif) tetapi juga mengajarkannya ke umat (bersifat aktif).

Sebagai manusia biasa sangat sulit mencari pemimpin pemerintahan yang sempurna, tetapi sebagai seorang pemimpin setidaknya kepemimpinannya membawa kemaslahatan masyarakatnya dan bukan malah menindas dan menyengsarakannya.

Jika ada yang membantah bahwa Ahok moralnya kurang baik bila dijadikan contoh teladan seorang pemimpin, bisakah menyebutkan satu contoh saja?

Korupsi, adakah indikasi yang menyebutkan atau membuktikan bahwa Ahok korupsi? Masalah Sumber Waras yang dikatakan oleh BPK ada penyimpangan, itu belum terbukti sampai sekarang.

Omongan kasar, tidak semua omongan kasar itu salah dan tidak bermoral. Jika kita sebagai seorang pemimpin menghadapi orang-orang Bengal yang korup dan maling, perlukah kata-kata sopan santun? Sedangkan hati mereka tidak akan menjadi sadar akan sifat mereka yang korup dan maling dengan hanya mendengar kata-kata santun. Bisa diibaratkan jika suatu benda di amanahkan untuk di jaga dan dikelola oleh anda, tiba-tiba ada pencuri mengambilnya, pantaskah si pencuri mendapatkan kata santun dari anda?

Menggusur pemukiman warga di pinggir sungai, Ahok bukan cuma menggusur tetapi merelokasi, tujuan merelokasi tersebutlah seharusnya yang kita nilai, yaitu agar sungai menjadi berfungsi dengan baik sehingga air hujan dapat tertapung untuk menuju ke laut, dan tidak menjadi banjir. Warga yang rumahnya terkena dampak dari normalisasi sungai tetap diperhatikan oleh Ahok, dengan memindahkannya ke rusun, serta mendapat fasilitas seperti KJP, transportasi gratis, bus sekolah, tunjangan sembako, dan lain-lain.

Dengan berpikir secara obyektif terhadap gubernur Jakarta ini, Yang perlu kita ributkan sekarang bukanlah kepemimpinan Ahok, bukanlah suku Ahok, Bukanlah Agama Ahok, yang perlu kita ributkan dan beri protes keras sekarang adalah pemimpin yang berkata santun tetapi mencuri dan menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri, yang tidak memikirkan kemaslahatan masyarakat. Yang perlu kita ributkan dan beri protes keras sekarang adalah pemimpin agama yang seharusnya menjaga moralnya dan mengajarkan moralnya tetapi malah bertindak sebaliknya.

Salam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lebih Tepat Mengapresiasi Kerja Ahok, Dari Pada Menyudutkannya"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?