Logika Bocah Agus-Anies: Kalau Kami Kalah Ahok Yang Salah!

Recomended


Memang heran mental pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari nomor urut satu dan tiga. Di dalam berita-berita, mereka seringkali mengatakan bahwa kekalahan bukanlah pilihan bagi mereka.

“Sejak pertama Agus-Sylvi mencalonkan diri sebagai bakal calon Cagub dan Cawagub DKI, sejak itu pula kita sudah berjuang di bawah terik panas dan guyuran hujan. Kita terus bergerilya. Tujuan kita satu, hanya satu adalah memenangkan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Tidak ada tujuan yang lain disini,” kata Agus di GOR Ciracas, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Sabtu 4 Februari 2017
Anak kesayangan dari Pepo Baperanikus from Cikeas mengatakan hal ini, jelas menunjukkan sikap dan mental tidak mau kalah dan tidak siap kalah. Seolah-olah ketika ia kalah, bahaya laten akan terjadi. Inilah mental yang senantiasa ditanam sejak zaman Orde Baru. Samar-samar di dalam ingatan saya, sewaktu pemilihan tiga partai PDI, Golkar, dan PPP, kalau tidak salah pada tahun 1995. Saya masih SD, Golkar merupakan partai terbesar pada saat itu. Seluruh orang dikondisikan untuk memilih partai tersebut. Baik dengan ancaman, maupun dengan atribut-atribut lainnya. Saya sangat ingat, sewaktu itu saya dikasih bola berwarna kuning dengan tulisan partai Golkar yang mengusung kembali presiden Soeharto pada saat itu.

Mental itu digunakan oleh pasangan calon Agus, kalimat yang sangat meyakinkan itu, memberi tekanan tersendiri kepada pendukung pasangan calon lainnya. Dukungan Pepo Baperanikus yang begitu terasa pun menjadi sebuah dukungan yang menunjukkan adanya penurunan takhta yang akan berlangsung pada tanggal 15 Februari 2017 nanti. Jadi, saya sarankan untuk pembaca yang juga berbagian di dalam mengawasi TPS (Tempat Pemungutan Suara) khususnya pendukung Ahok Djarot, dapat mengajak teman untuk mengawasi, jangan sendirian. Intimidasi di TPS TPS akan sangat berasa. Hati-hati dengan pendukung dari pasangan calon ini. Sudah barang tentu FPI dan ormas-ormas betawi yang agaknya radikal ini mendukung pasangan Agus Sylvi.

“Saya sangat yakin. Apa lagi Pak Boy Sadikin sudah sangat lama memimpin gerakan relawan. Ini bukan uji coba, ini kepemimpinan yang teruji,” ujar Anies.

Bapak satu ini juga tidak kalah mengerikannya dibandingkan dengan Agus Sylvi. Keyakinannya untuk memenangkan pilkada, diturunkan dari keyakinan “bapak ideologi”nya di dalam memenangkan pemilihan presiden tahun 2014 lalu. Anies yang pada saat itu mendukung Pak Dhe Jokowi di dalam memenangkan pilpres, sekarang dipilih oleh Prabowo untuk memenangkan pilkada. Sebenarnya kalimat-kalimat Anies ini tidak ada yang terlihat radikal dan mengancam. Namun ketika kita melihat bapak ideologi-nya yaitu Prabowo, yang mengatakan “Rebut kembali Jakarta!”, mengindikasikan ada sesuatu yang sangat titik-titik untuk diperhatikan.

Kita sebagai pembaca Seword yang sudah terbiasa untuk membaca opini yang masuk akal dari setiap penulis, tentu juga tidak akan mau dijebak oleh kalimat-kalimat provokasi dan menekan yang diutarakan oleh kubu paslon 1 dan 3. Sakit hati sang mantan Danjen Kopassus ini merupakan sakit hati yang belum sembuh. Ia masih memiliki hasrat untuk memiliki kedudukan di dalam perpolitikan Tanah Air kita, Indonesia. Ia bahkan rela untuk bekerjasama dan rela merendahkan dirinya untuk kongkalikong dengan Pak Mantan yang juga sakit hati. Kerjasama mereka adalah menghancurkan anak ideologis dari Bu Mega. Bu Mega merupakan salah satu sosok yang tidak disukai oleh kedua orang ini, Pepo Baperanikus dan Wowo The Heartbroken Kid. Pepo yang pada saat jadi menteri merasa dizalimi karena tidak ikut rapat (Apaaa? Cuma karena itu?) dan Wowo yang gagal jadi presiden karena Pak Dhe Jokowi yang “tiba-tiba” menyusup dan mencuri hati warga negara Indonesia. Semua karena ulah Ibu Mega!

“Mega, semua yang kau lakukan ke kami itu… Jahat” – Wowo and Pepo

Namun, apa leh buat? Semuanya sudah terjadi, Wowo dan Pepo yang merasa terzalimi oleh Bu Mega ini, merasa hal ini sudah harus dihentikan, sebelum menyebabkan sakit hati yang lebih akut. Ahok yang sekarang merupakan “anak ideologis” Pancasila yang diturunkan oleh Presiden pertama Sukarno, harus dihentikan pergerakannya. Jika tidak, “rezim Pancasila” akan terus berlangsung.

Begitulah kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh Wowo dan Pepo. Segala serangan kepada Ahok sudah dilancarkan. Melalui singa lafar FPI yang sekarang singa alpha-nya yang sedang beralih fungsi karnivora menjadi herbivora karena kasus pisang-pisangan, melalui gorengan isu kasus penistaan ulama Pak Ma’ruf Amin, dan hasutan-hasutan yang dilontarkan oleh kubu paslon nomor satu dan tiga, Ahok sampai sekarang masih bertahan. Benar-benar julukan Ahok: Anak Hoki sangat berasa disini.

Cara apa lagi, entahlah…. yang pasti cara-cara kurang sehat akan terus dilakukan sampai 14 Februari 2017. Jangan pikir ada hari tenang jika kita mau melihat dari mental 1 dan 3. Seluruh kubu pasangan calon nomor 1 dan nomor 3 sedang mengincar musuh yang sama, yaitu Pak Ahok, Pak Djarot, PDI, dan tentunya “dalang” semua ini, Ibu Mega.

Jadi, untuk seluruh warga Jakarta yang mendukung kebenaran, saya memiliki beberapa pesan. Rapatkan barisan, berdirilah teguh, bertahan, dan pada harinya, datanglah ke TPS, dengan semangat nasionalisme, semangat Jakarta Baru, menjag, mendukung, dan memastikan kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor dua, Basuki-Djarot.

Rapatkan barisan! Jangan takut, jangan kuatir! Ini kentut bukannya petir! Ups.. Saking semangatnya saya sampai salah. Mungkin yang benar seperti ini..

Jangan takut, jangan kuatir. Ahok Djarot, jangan yang amatir!

Betul kan yang saya katakan? Salam dua jari!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Logika Bocah Agus-Anies: Kalau Kami Kalah Ahok Yang Salah!"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?