Peta Taktik Sang Mantan: dari Demo 3 Angka sampai Hari-H Pilkada

Recomended


Mantan tidak pernah beristirahat. Mantan selalu menghantui jalannya politik di negara Indonesia. Setelah lama berkuasa, Mantan punya banyak pengikut loyal dan dana tak terbatas yang berasal dari 4 proyek sosial di jamannya. Sambil menikmati kopi, mari kita baca pemetaan seluruh strategi Mantan, baik yang sudah terjadi maupun yang mungkin terjadi.

Semua akan dipaparkan dengan sangat singkat agar pemetaan ini mudah dipahami.

VISI MISI UTAMA : Memenangkan Putera Mahkota Menjadi Pimpinan Ibukota

Tanpa pengalaman dan pengetahuan di dunia pemerintahan, elektabilitas Putera Mahkota perlu didongkrak habis-habisan. Keluarga besar harus berjuang bersama. Itu tidak cukup. Sambil mendongkrak, sambil menurunkan citra lawan terberat dalam pemilihan, si Gubernur Petahana.

PERTAMA: PEMBUATAN DASAR “HUKUM”

MUI secara mendadak mengeluarkan fatwa penistaan pada Gubernur Petahana. Dalam tempo singkat semua tiba-tiba diputuskan seolah mengejar momen Pilkada. Info saja, ketua MUI dulu Wantimpres Si Mantan. Akrab. Fatwa seolah-olah menjadi landasan “hukum”.

Setelah digembar-gemborkan, Mantan dan para kaki guritanya merasa perlu ada penggerak bagi yang sudah terprovokasi. Maka kita lanjut ke poin kedua.

KEDUA: PEMBUATAN APARAT PENEGAK “HUKUM”

FPI ditugaskan Mantan-manja untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan MUI, yakni me-lebay-kan permasalahan. Gelar aksi demo bela agama super damai mendapatkan momennya. Bola panas yang dilemparkan rupanya disambut secingkrangan tidak tahu apa-apa. Sambil berjalan, FPI membelah dua menjadi GNPF-MUI yang sebenarnya secara esensi tidak ada bedanya.

Lupa daratan, sang ketua organisasi, terkena jeratan dari mulutnya sendiri. Kasus-kasus mulai menghambat kredibilitasnya sebagai seorang yang mengaku membela agama. Dari ras tertentu, suku tertentu, bahkan sampai dasar negara sendiri dihina. Mulai mencapai puncak ketika ditetapkan sebagai tersangka penistaan dasar negara. Sekarang gunung es itu makin terlihat dengan diketemukannya chat whatsapp berisi obrolan stenstilan puitis mesum. Benar atau tidak, itu akan berpengaruh pada kepercayaan secingkrangannya.

Cahaya FPI mulai surut. Segala demo susulan hanya jadi bahan tawaan. Kedigdayaannya mulai terlihat jelas, bahwa itu hanya pencitraan. Aslinya, bukan apa-apa. Juga ternyata bukan tentang agama.

KETIGA: PEMBUATAN RENCANA B, MENDUKUNG PERGERAKAN SANG APARAT PENEGAK “HUKUM”

Diduga Mantan-nelangsa membaca situasi yang mulai berubah arah anginnya. Mungkin alasan loyalitas, Mantan mencoba menyelamatkan pimpinan ‘aparat’-nya itu. Segala hal disiapkan untuk mulai menggelar aksi Bela Ulama. Bola panas ternyata tidak secepat yang diharapkan, namun setidaknya masih bergulir. Sambil terus menunggu momen, sambil terus memainkan bolanya. Api tidak boleh padam, kata Mantan.

Si mulut brizik tak terselamatkan. Sedang ingin dibela, malah menambah dugaan kasus yang jelas bertentangan dengan prinsip kesucian seorang ulama, chat mesum. Belum diakui dan tidak akan diakui, namun akal sehat Mantan dan gurita adalah sama dengan akal sehat kita dan penyidik Kepolisian. Momen yang harusnya terbentuk setelah ditetapkannya manusia itu sebagai terdakwa, ternyata mengendur. Bola kurang panas, bung!

Mari kita tunda sejenak, cari bahan bakar yang lebih menyala, begitu mungkin pikirnya.

KEEMPAT: MANFAATKAN SIDANG Ke-8 SI PETAHANA

Mantan walaupun cengeng namun dia taktis! Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kemarin sempat ingin mendayung pulau penistaan sekaligus pulau penggeseran pemerintahan dengan menggelontorkan ide sidang istimewa, kali ini dilakukan lagi namun dengan alasan berbeda.

Dari sekian banyak anggota MUI yang bisa dijadikan perwakilan saksi, dipilihlah sang ketua yang sebenarnya sudah memasuki usia renta. Siapapun sama di hadapan hukum. Tujuh jam menghadapi pertanyaan dari pembela Gubernur Petahana adalah resiko yang harus dihadapi karena lagi-lagi, siapapun sama di hadapan hukum. Kesalahan bukan pada yang bertanya, tapi pada MUI yang tidak memperhitungkan usia dan kondisi dari ketuanya.

Tapi inilah Mantan, dia harus mendayung secepat mungkin. Tidak ada pilihan lain selain menaruh ketua MUI di hadapan para pengacara. Alasannya sederhana: biarkan dia diberondong pertanyaan, lalu kemudian ubah pertanyaan menjadi seakan-akan penudingan, melecehkan atau ungkapan ketidakpercayaan atau apapun namanya.

Tidak ada cara lain untuk mendapatkan momen yang sudah mengendur demi Bela Ulama. Sambil melakukan itu, sambil mencoba menarik simpatisan NU untuk berdiri di pihak yang sama. Mantan butuh masa dan ini cara satu-satunya. Dengan demikian, bola kembali panas. Gubernur Petahana kena, masa tak berbayar pun dapat.

Betul! Mantan mendapatkan momennya lagi. Dengan terus menerus menggembor-gemborkan melecehkan ulama, semakin besar alasan untuk melakukan demonstrasi Bela Ulama.

Tak disangka-sangka! Begitu momen seakan-akan ingin sampai puncaknya, Gubernur Petahana dan Sang Ketua malah saling memaafkan layaknya manusia beragama. Kendur sedikit momennya, tapi masih ada, lagipula sudah terlanjur basah juga. Mantan dan tentakelnya tidak bisa batalkan begitu saja. Harus total ke visi misi utama.

KELIMA: DEMO BELA ULAMA, BELA AGAMA, NAMUN DENGAN MISI PILKADA

Takut kehilangan momen untuk kesekian kalinya dan takut suasana saling memaafkan semakin membuat suasana tenteram, Mantan dan tentakel guritanya membuat rencana demonstrasi terbuka maupun kampanye tertutup yang berseri lagi.

Sabtu, 11 Februari 2017, akan berkumpul di Monas lalu berjalan kaki ke Sudirman-Thamrin dengan tuntutan politis abadi tentang menegakkan Al-Maidah ayat 51. Dikabarkan akan semakin ditegaskan tentang orang Muslim harus memilih pemimpin yang juga Muslim.

Minggu, 12 Februari 2017, Sholat Subuh Gabungan di Masjid Istiqlal Pk 04.00 yang juga akan dihadiri 12.000 pengkhatam Al-Qur’an. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa itu bukan sama sekali berbau politis. Ini sudah memasuki masa tenang kampanye, jadi cara terbaik bila harus tetap berkampanye kemungkinan besar dengan menyelipkan pada ceramah. Elektabilitas harus terus didongkrak apapun caranya, siapapun korbannya.

Senin, Selasa : 13-14 Februari 2017, usaha memobilisasi umat Islam untuk pergi ke masjid-masjid demi mendengarkan ceramah tentang agama. Diduga akan semakin ditekankan tentang surat Al-Maidah 51 dalam konteks Pilkada DKI Jakarta.

Rabu, 15 Februari 2017, hari-H Pilkada DKI Jakarta. Diduga ada usaha pengarahan umat Islam ke Masjid atau Mushola terdekat untuk Sholat Subuh. Ada kemungkinan pengarahan struktural tentang pencoblosan. Ada selentingan kabar tentang serangan fajar berbentuk intimidasi pada calon pemilih lain, pembakaran TPS, dan skenario gagal hitung, namun hal ini masih tanda tanya. Kebenarannya tidak akan terungkap tentunya sampai pada hari-H. Kepolisian sudah tetapkan Siaga 1 di Hari Pemilihan.

PENUTUP

Ketika skenario sudah sedemikian tersingkap, kita tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu apa-apa. Kejelasannya sampai dapat dimengerti oleh banyak orang yang selama ini tidak pernah mengikuti sepak terjang politik negara. Ketika orang awam sampai merasakan ada yang tidak beres dengan ini, berarti ada yang semakin jelas terlihat di balik semuanya.

Saya bukan ahli, saya hanya Manusia Kepala Rusa yang tertegun dengan kondisi politik Indonesia. Demi sebuah dinasti usang, keutuhan hidup berbangsa, bernegara, beragama yang sudah terpelihara sejak dari jaman nenek moyang, terus saja digoyang. Semoga kaum waras bisa terus waras dan syukur-syukur bisa menularkannya ke kaum sumbu pendek, secingkrangan, sesapian, sehingga sadar mereka hanya pion-pion kecil yang kelak dapat dikorbankan demi sebuah dinasti yang haus kekuasaan.

Salam Kepala Rusa untuk Kura-kura. Silahkan share bila merasa bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peta Taktik Sang Mantan: dari Demo 3 Angka sampai Hari-H Pilkada"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?