Preview: Debat Cagub–Cawagub DKI Jakarta Jilid 3

Recomended


Debat cagub-cawagub DKI Jakarta jilid 3 akan dilangsungkan akhir pekan ini, tepatnya Jumat, 10 Februari 2017. Debat yang rencananya akan dilangsungkan selama 2 jam ini akan membahas tema Kependudukan dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Jakarta. Ini akan menjadi debat terakhir sekaligus jurus pamungkas ketiga paslon yang akan mencoba untuk memaparkan program-programnya dalam memimpin kota Jakarta selama 5 tahun ke depan. Tapi layaknya sebuah pertandingan sepakbola, nampaknya kita bisa memprediksikan akan seperti apa jadinya debat hari Jumat nanti. Saya disini akan mengeluarkan analisa pribadi saya di posisi netral agar semua paslon mampu menghadirkan yang terbaik di debat ketiga nanti.

Agus-Sylvi: Berhenti Mengapung, Hadapi Realita Birokrasi, dan jangan terlalu puitis dalam Bertanya.

Selama ini di debat-debat sebelumnya, Agus selalu membangga-banggakan dirinya yang mempunyai ‘good will’ dalam merapihkan kota Jakarta. Ia selalu berpikir bahwa gubernur sekarang (baca: Ahok) terlalu keras dalam memimpin Jakarta sehingga masyarakat pun takut dengan gubernurnya sendiri. Hal ini seolah-olah ingin menggambarkan paslon Agus-Sylvi menjadi protagonis dari gubernur DKI sekarang. Mereka tidak mau menggusur *uhuk hanya menggeser* dan juga mereka akan membagikan uang untuk modal usaha yang jumlahnya sampai satu milyar Rupiah. Hal tersebut harus dikurang-kurangi Agus karena menurut saya hal tersebut hanya akan menjatuhkan dirinya sendiri dengan serangan-serangan pertanyaan teknis dari Ahok-Djarot yang pastinya akan sulit dijawab oleh Agus-Sylvi. Misalnya dari debat kedua kemarin:

Ahok: Bagaimana pasangan no. 1 bisa mendapatkan lahan 350 hektar kalau ada di lokasi yang sama? Lalu bagaimana caranya anda tidak melanggar berlawanan dengan PP nomor 38 tahun 2011 yang menugaskan kita menertibkan bangunan di atas sepadan sungai?

Agus: Ya ini diferensiasinya. Jika kami terpilih jadi gubernur dan wakil gubernur kami akan benar-benar firm untuk meyakinkan kita bisa menata membangun mengelola memmpercantik kota ini tanpa harus menggusur. Kita bisa yang penting kita kreatif dan terbuka dengan berbagai masukan, terbuka dengan berbagai inovasi. Kita lihat, kita lakukan benchmark. Negara lain sudah melakukannya bisa, berhasil. Kota lain di indonesia juga melakukannya bisa berhasil. Intinya di goodwill. Kalau dengan alasan mempercantik menormalisasi sungai dan sebagainya tetapi sebenarnya ada alsan-alasan lain… (dan seterusnya)

Dilihat dari jawaban tersebut, jelas Agus kena skakmat dari pertanyaan Ahok.

Pertanyaan yang sangat simpel dan teknis bahkan tidak bisa Ia jawab dengan benar. Agus malah muter-muter, mengharapkan masukkan dan inovasi, mempunyai good will, dan melakukan benchmark yang ga ada nyambung-nyambungnya dengan pertanyaan Ahok. Ia bingung, bahkan sampai menggunakan bahasa Inggris yang ga penting untuk membuat dirinya terkesan pintar. Ia juga hanya menyebutkan ‘kota lain’ dan ‘negara lain’ tanpa menyebut namanya. Hal ini yang membuat Agus terlihat panik dan tidak tau apa yang ia bicarakan. Hal ini juga berlaku untuk mpok Sylvi yang terkesan terlalu puitis dalam memberikan pertanyaan sehingga menghabis-habiskan waktunya hanya untuk memaparkan data tanpa ada pertanyaan konkrit yang dilempar. Kalau misalkan hal ini terus dilakukan dan Agus-Sylvi tidak menyiapkan pengetahuan teknis bagaiman dirinya akan menjalankan programnya, niscaya Agus-Sylvi akan kembali terlihat seperti anak kuliahan yang bingung ketika harus mengisi lembar jawaban dari dosen killernya, mengarang bebas.

Selain itu Agus-Sylvi juga nampaknya harus bangun sesegera mungkin dan melek terhadap birokrasi Jakarta yang carut-marut sebelum Ahok hadir. Selalu ia mengandalkan jurus pamungkasnya yang selalu mengatakan bahwa bawahan-bawahan Ahok selalu takut untuk melaporkan kalau ada yang tidak beres. Agus-Sylvi harus sadar bahwa birokrasi Jakarta tidak bisa disayang-sayang, tidak bisa ‘merangkul’ DPRD kembali kalau ujung-ujungnya ada ‘permainan’ lagi. Mereka harus sadar bahwa taktik mereka yang memanjakan birokrasi hanya akan membuat birokrasi Jakarta yang sudah susah payah dibangun oleh akan Ahok akan hancur seketika.

Kesimpulannya, Agus-Sylvi harus segera sadar bahwa ini sudah memasuki debat ketiga. Debat terakhir dari rangkaian debat resmi KPU. Pilkada sendiri hanya berselang 1 minggu setelah debat ini dan mereka akan memasuki minggu tenang. Agus-Sylvi harus mengeluarkan program nyata mereka yang lebih masuk akal dan lebih teknis agar para calon pemilihnya bisa lebih yakin dan tidak pindah hati. Karena kalau tidak, menurut saya elektibilitas Agus-Sylvi akan terjun setelah debat ketiga ini berakhir.

Ahok-Djarot: Jangan Serang Profesi dan Tetap Senyum

Tidak bisa dipungkiri bahwa Ahok-Djarot menjadi tontonan yang paling menarik dalam dua debat terakhir. Mereka menggunakan taktik ‘defense is the best offense’. Mereka selalu berhasil menangkis semua pertanyaan yang diarahkan kepada mereka dengan jawaban-jawaban yang lengkap tanpa harus berputar-putar terlebih dahulu. Jawabannya lugas, tidak bertele-tele dan teknis. Mereka juga mampu memanfaatkan waktu dengan sangat baik. Bahkan mereka bisa membuat pertanyaan dari kubu lawan berputar balik menyerang dirinya sendiri.

Ketiga mpok Sylvie membacakan puisi pertanyaan untuk Ahok menyoal penggusuran di DKI Jakarta, Ahok dengan sangat apik menjawab pertanyaan tersebut dan membuat paslon 1 terkena bumerangnya sendiri.

“Saya kira jauh lebih tidak manusiawi mengajari rakyat yang sudah salah untuk membenarkan dia demi memenangkan Pilkada. Ini sangat bahaya, sangat bahaya.”

Jawaban ini sangat menohok paslon 1 dan paslon 2 yang selalu menggembar-gemborkan jiwa kemanusiaan mereka yang tidak akan menggusur warga yang padahal menurut Ahok sudah salah karena tinggal di bantaran sungai.

Kesimpulannya tidak ada banyak hal yang harus diperbaiki oleh Ahok-Djarot di debat ketiga nanti. Tapi menurut saya, mungkin akan lebih baik apabila Ahok tidak membawa-bawa profesi dalam menyerang paslon lainnya seperti saat ia menyerang Anies Baswedan dengan profesi dosen yang hanya retorika. Menurut saya serangan itu tidak efektif dan seolah-olah membuat profesi dosen hanyalah orang-orang yang paham teori namun tidak bisa praktek. Lebih dari itu, pertahankan senyum kalian Ahok-Djarot.

Anies-Sandiaga: Lebih Tenang, dan Validasi Data.

Melihat dari debat kedua, Anies-Sandiaga adalah paslon yang ada peningkatan. Mereka tidak lagi terpaku pada retorika-retorika dalam membangun Jakarta. Tapi sayangnya, hal tersebut digantikan dengan data-data yang tidak terlalu akurat yang dilemparkan oleh Anies-Sandiaga. Mereka menyerang dengan memaparkan rapor merah Ahok ketika menjabat jadi gubernur di DKI Jakarta. Sayangnya, beberapa data agak meleset dan mereka jadi terkesan blunder dalam menyerang paslon nomor urut 2. Blunder lainnya yang menurut saya terjadi adalah ketika mereka mengharapkan ‘kerja sama’ dari paslon nomor urut 1 untuk menyerang paslon nomor urut 2. Hal ini adalah membuang-buang kesempatan mereka untuk menguji program paslon nomor urut 1 dalam memimpin kota DKI Jakarta. Dengan demikian Anies-Sandi terlihat lebih sibuk menyerang paslon nomor urut 2 dan lupa untuk fokus pada programnya sendiri.

Hal lain yang menurut saya harus dilakukan oleh pasangan Anies-Sandi adalah lebih tenang. Pasangan ini adalah menurut saya pasangan yang paling jarang senyum saat debat. Mereka cenderung lebih memasang muka yang serius dan galak saat debat. Ini paling terlihat ketika Anies menjawab respon Ahok yang menyinggung ranking 22 dari 22 Kemendikbud saat Anies masih menjabat kala itu. Anies yang terkenal dengan ketenangannya dan senyumannya terlihat sangat berbeda diatas panggung. Ia seolah-olah kzl dengan data yang dikeluarkan oleh Ahok dan kehilangan kendali sehingga tidak terlihat Anies yang biasanya murah senyum dan ramah.

Kesimpulannya adalah, Anies-Sandiaga harus lebih tenang dalam merespon pertanyaan yang menyerang mereka. Alangkah baiknya juga kalau mereka juga lebih teliti dalam mengvalidasi data sebelum melemparkannya untuk menyerang ke paslon lainnya agar tidak terjadi blunder seperti pada debat kedua.

Ya dengan ketiga paslon akan saling adu jotos kembali di panggung debat Jumat nanti, saya yakin akan ada pertanyaan-pertanyaan pamungkas dari masing-masing paslon yang akan mereka lemparkan. Saya memprediksikan Ahok akan kembali unggul di debat ketiga ini walaupun diserang bertubi-tubi oleh Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga. Yah semoga saja debat ketiga ini moderator bisa lebih tegas dan efektif dalam mengatur jalannya debat sehingga apa yang terjadi di debat kedua kemarin bisa tidak terulang kembali (baca: Sylvi kehabisan waktu karena kelamaan baca puisi).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Preview: Debat Cagub–Cawagub DKI Jakarta Jilid 3"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?