SBY Drama King, Jokowi Raja Berkelit

Recomended


Bermula dari Konpers SBY selang beberapa hari sebelum aksi 411, SBY mengeluarkan jurus kata pamungkas ‘Lebaran Kuda’ yang menjadi hits. Sampai lebaran kuda pun tetap akan ada unjuk rasa. Sebuah pernyataan yang memancing kontroversi dan memperpanas suasana. Tujuannya tidak lain adalah untuk mendesak dan memojokkan Jokowi yang kala itu sering digembar-gemborkan berada di belakang Ahok, mendukung Ahok bahkan dituduh melindungi Ahok. Siapa pun pasti mudah tergiring opini seperti ini mengingat Jokowi dan Ahok adalah mantan pasangan maut dalam Pilkada DKI tahun 2012 lalu. Mereka seperti sepasang soulmate yang saling mengisi kekurangan masing-masing dalam membangun Jakarta.

Akan tetapi, sayang itu tidak berhasil. SBY melempar kail dengan harapan Jokowi memakannya dan terpancing. Tapi Jokowi tidak sebodoh itu. Jokowi mengklarifikasi bahwa dirinya tidak melindungi Jokowi dan tidak akan mengintervensi proses hukum Ahok. Jadi sebelum sempat mencengkeram, Jokowi sudah mengelak duluan. Sori ya Pak SBY.
SBY tidak juga menyerah. Kali ini SBY bercuit di Twitter yang isinya adalah keprihatinan lebay bahwa juru fitnah dan hoax merajalela. Dari cuitannya saja sudah bisa diprediksi bahwa itu ditujukan untuk pemerintah, siapa lagi kalau bukan Jokowi. “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar ‘hoax’ berkuasa dan merajalela.” Siapa lagi kalau bukan Jokowi? Tapi sayang cuitannya malah bikin blunder. Bola panas yang dilempar SBY dilempar balik dalam bentuk pecahan bola api kecil oleh netizen dan beberapa pihak yang mengatakan bahwa SBY adalah sosok yang pesimis dan tidak seharusnya bersikap seperti itu mengingat dirinya adalah mantan Presiden.

Mantan Presiden kok kerjaannya prihatin dan galau melulu? Pantas saja Indonesia gampang diremehkan. Kepala negaranya saja lemah dan tidak tegas, cenderung berkeluh kesah. Jokowi lagi-lagi tidak termakan pancingan SBY. Jokowi santai saja dengan menanggapi bahwa tidak perlu banyak keluhan dan harus optimis. Itu baru benar, pemimpin harus optimis. Kalau pesimis, rakyat makin pesimis dong.

Saking stresnya SBY melempar kail dengan harapan Jokowi terpancing, dia malah melakukan blunder lain dengan mengatakan Jokowi harus menjelaskan isu penyadapan yang lucunya berasal dari mulutnya sendiri. Tidak ada yang bilang penyadapan, SBY sudah kalang kabut merasa dirinya disadap. Ingat, MERASA dirinya disadap. Masih dalam tahap MERASA. Sungguh baper banget. Dan yang tidak bisa dicerna dengan akal sehat adalah Jokowi yang diseret-seret dalam isu ini padahal seharusnya SBY meminta klarifikasi pada Ahok dan tim pengacaranya.

Sungguh jelas SBY ingin memancing Jokowi, tapi lagi-lagi Jokowi sudah tahu dan tidak termakan pancingan. Jokowi sudah tegas mengatakan bahwa SBY seharusnya berurusan dengan Ahok dan pengacaranya. Padahal kalau mau diflashback ke masa lalu, Jokowi juga pernah disadap semasa masih menjabat Gubernur DKI. 3 alat sadap ditemukan di rumah dinas, tapi Jokowi merespon santai. Dia malah mengatakan penyadap pasti akan kecewa karena tidak ada pembicaraan yang penting, dan tidak membesar-besarkan masalah ini.

Semakin stres karena sudah melempar kail begitu lama tapi tidak di makan, fraksi Partai Demokrat mencoba menggalang dukungan untuk melakukan hak angket untuk menyelidiki dugaan penyadapan terhadap SBY. Tapi menurut saya sih, sepertinya akan sulit tercapai karena hak angket harus disetujui oleh 50% + 1 orang anggota DPR yang hadir saat itu. Saya malah tidak yakin Partai Demokrat bisa menggalang kekuatan besar untuk itu. Demokrat tidak sadar siapa yang paling banyak menguasai DPR. Tapi tidak apa-apa kok, karena bermimpi tidak dipungut biaya, asalkan jangan nanti menangis dan bikin konpers lagi jika hak angket gagal.

Coba kita tarik benang merahnya. Untuk apa melakukan hak angket, kenapa tidak tempuh jalur hukum saja untuk menyelidiki apakah ada penyadapan? Jawabannya hanya satu, SBY tidak ada bukti dan tidak mampu membuktikan bahwa dirinya disadap. Semua itu hanya asumsi dan perasaan dia saja yang merasa disadap. Jadi mau tidak mau, hak angket adalah jalur alternatif. Hak angket ditujukan untuk siapa? Pembaca pasti sudah tahu siapa targetnya.

Sebaiknya SBY mengingat kembali ucapan Agus yang mengatakan jadi pemimpin tidak boleh curiga melulu. Ini dikatakannya saat ditanya oleh Ahok-Djarot mengenai cara mengawal dana 1 miliar per RW. SBY seharusnya jangan curiga melulu. Dikit-dikit curiga, dikit-dikit curiga, curiga kok dikit-dikit.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Entahlah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SBY Drama King, Jokowi Raja Berkelit"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?