SBY Juga Demam Korea

Recomended


Musik dan artis Korea berhasil menghipnotis telinga dan mata remaja di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kedahsyatan pesona penyanyinya dengan gerakan-gerakan dinamis telah menyihir jutaan pemirsa televisi maupun secara live ketika mereka sedang manggung. Indonesia benar-benar telah di-“koreakan” oleh K-pop yang didominasi oleh pria-pria mulus dan wanita-wanita seksi dengan gaya menyanyinya yang atraktif.

Kepala Program Studi Korea Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Zaini MA menilai, budaya Korea sebenarnya biasa saja. Sama seperti budaya di tiap-tiap negara, termasuk di Indonesia, yang memiliki keunikan masing-masing. “Tapi mereka kreatif. Mereka pandai mengemas, memadukan, dan menjual kebudayaan mereka,” ujarnya kepada Tempo, Senin, 26 November 2012. “Dan mereka muncul di waktu yang tepat, difasilitasi era digital dan internet.” Menurut Zaini, mendunianya wabah demam Korea di dunia, termasuk di Indonesia, terjadi karena semua pihak di Negeri Ginseng itu bersinergi. Tak hanya perkembangan teknologi yang semakin moncer, Korea juga menggarap sisi budaya mereka. “Sebenarnya ini digunakan untuk berbagai kepentingan, termasuk perusahaan-perusahaan Korea. Secara tidak langsung tentu mendongkrak produk-produk mereka,” kata Zaini.
Secara kronologi, Demam Korea (Korean Wave) di Indoneisa memang menerpa dalam dua periode yang berbeda jenis terpaannya. Gelombang pertama lebih banyak membawa pengaruh dalam hal sinematografi atau tontonan visual. Periode ini muncul sejak era Winter Sonata pada 2002 hingga lima tahunan setelahnya. Kemudian gelombang kedua yang terjadi dua tahun terakhir ini, lebih menerpa dalam bidang musik lewat munculnya Super Junior, 2NE1, dan Big Bang.

Lantas apa sih penyebab Korean Wave ini sangat menerpa terutama untuk negara-negara di Asia. Menurut Sung Tae-Ho, senior manager di KBS, salah satu alasannya yaitu Korea berhasil memberikan hiburan yang berkualitas tinggi namun dengan harga murah, dibandingkan harga hiburan dari negara lain, misalnya dari Barat seperti Amerika Serikat. Kualitas tinggi juga diperlihatkan dalam tampilan di media, terutama media eletronik dan internet. Kualitas ini diterjemahkan dalam bentuk pengambilan rekaman video dengan kualitas High Definition yang tentu saja amat memanjakan mata pemirsanya. Kualitas tinggi ini berkat persaingan yang juga tinggi di negara tersebut. Selebriti di Korea terkenal berdisiplin dan sangat memacu dirinya untuk maju. Lihat saja Rain yang tak hanya andal berakting tapi juga bernyanyi dan selalu memberi aksi panggung prima. Satu hal yang mungkin jadi stereotip tentang Korea adalah, kemampuan mereka dalam menampilkan “sesuatu” yang fresh dan sangat mengeksploitasi emosi para penikmatnya.

Lalu apa kaitannya dengan sang mantan, SBY. Banyak hal saudara-saudara. Dan apabila ditelusuri, pola beliau dalam menancapkan eksistensinya di mata masyarakat Indonesia, memiliki kemiripan dengan pola-pola ekspansi Korean Wave. SBY benar-benar memaksimalkan media sebagai ajang beliau mempromosikan diri. Mulai dari media pertelevisian, media cetak hingga kini aktif media sosial seperti Twitter dan Facebook. Hal ini mulai beliau lancarkan sejak sebelum Pilpres 2004, yang mana mengantarkan beliau sukses menjadi presiden republik ini.

Persamaan SBY dan Korean Wave, tidak hanya terletak pada penggunaan medianya saja, tetapi juga bagaimana pengemasan yang tepat untuk ditampilkan pada medianya. Sebagai contoh, di atas saya sudah menjelaskan bahwa Korean Wave menampilkan kualitas yang tinggi mulai dari pengemasan, skenario hingga produksi musik dan filmnya, namun dengan harga yang murah. SBY juga menggunakan pola tersebut. Ingat bagaimana tagline lagu beliau bersama JK “Bersama Kita Bisa”, bisa membuat anak kecil pun hapal menyanyikan lagu tersebut minimal bagian reffnya. Hal itu benar-benar bentuk promosi yang membumi kepada masyarakat Indonesia. Melalui seni dan media. Dan perlu diingat lagi, bentuk kampanye SBY melalui media ini adalah hal baru namun benar-benar begitu fresh pada masa itu. Dan lebih penting lagi, suara rakyat langsung menentukan hasil Pemilu, tidak perlu melalui sidang MPR lagi. Benar-benar pengemasan yang brilian.

Selain itu, acara-acara talkshow atau acara besar pertelevisian lainnya, tidak hanya dimanfaatkan SBY untuk menyampaikan visi-misinya saja. Beliau sering sekali tampil dengan bersenandung lagu Pelangi di Matamu milik band rock Jamrud. Musik menjadi pengemasan yang amat menyentuh dalam proses kampanye ini. Seolah-seolah SBY diungkapkan sebagai orang yang sangat perasa dan benar-benar memahami hati rakyat. Sekali lagi, pengemasan media dengan musik ini yang benar-benar membumi.



Selama menjabat sebagai Presiden selama dua periode, penggunaan media tetap dimaksimalkan, sekalipun dalam pengemasan yang berbeda. Konferensi pers dijadikan SBY sebagai alat baru untuk menyampaikan segala bentuk ungkapan hati maupun pemikirannya. Sebagai contoh, ketika ada bencana alam terjadi di daerah-daerah, beliau akan selalu saja mengeluarkan pernyataan “saya prihatin”. Pernyataan simpati yang menyentuh hati, namun nihil tindakan. Anehnya, pernyataan ini seolah-olah menjadi quotes beliau yang berlangsung hingga sekarang.

Konferensi pers juga dijadikan beliau sebagai sarana untuk menyampaikan “curhatannya”. Sebagai contoh, pada Juli 2009, beliau mengungkapkan “curhatan cengeng” bahwa hidupnya tidak aman dikarenakan menjadi sasaran tembak teroris. Pada Rapat Pimpinan TNI dan Polri tahun 2011, beliau kembali mengungkapkan “curhatan cengeng” bahwa selama tujuh tahun menjabat presiden gajinya tidak mengalami kenaikan.

SBY benar-benar konsisten menggunakan media sebagai sarana yang mengubek-ubek emosi. Ketika kampanye Pilpres 2004, SBY menggunakan media sebagai sarana yang mempertontonkan “ketidakberdayaan” dan seolah-olah menjadi korban akibat perbuatan lawan politiknya pada masa itu. Dampaknya, simpati rakyatpun diraihnya sehingga mampu memenangkan Pilpres 2004. Pola tersebut SBY tampilkan kembali ketika berkaitan dengan BBM semasa menjabat presiden. Pada saat proses kenaikan BBM, maka pengumuman resmi kenaikan BBM akan selalu disampaikan oleh menterinya. Namun, apabila ketika ada penurunan harga BBM atau tidak terjadi kenaikan, maka SBY akan menggelar konferensi pers dan mengumumkannya dengan penuh wibawa. Dari sini saya melihat, peristiwa kenaikan BBM membangun stigma negatif sehingga SBY “tidak berani” tampil untuk menyampaikannya.

Sementara ketika pengumuman normalisasi harga BBM, SBY berani tampil karena hal ini dianggap membangun citra positif bak pahlawan. Beberapa waktu terakhir, dengan memposisikan sebagai pemerhati bangsa, beliau mengeluarkan pernyataan “Lebaran Kuda” dan curhatan tentang obrolannya yang disadap. Adapun tujuan secara tak langsungnya adalah menjadi sorotan publik, terlepas apapun respon dari publik. Saya semakin yakin bahwa beliau benar-benar brilian dalam menggunakan media secara tepat dan efektif.

Terkahir, beliau menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mempertahankan eksitensinya. Status komentar di facebook ataupun cuitan di Twitter benar-benar dijadikan beliau sebagai bahan untuk menyorot dirinya. Hal-hal mengambang dan berbau kontroversilah yang paling sering beliau sampaikan pada media sosial tersebut. Tentu hal itu sangat menarik perhatian publik, terlepas bagaimana responnya. Tapi tetap saja, intinya beliau menjadi sorotan. SBY benar-benar pakar pencitraan.

Korean Wave dan SBY benar-benar menggunakan media secara tepat dan efektif. Pengemasan yang mutakhir, ide cerita yang fresh ditambah kemampuan mengaduk-aduk emosi “pemirsanya” secara konsisten merupakan kunci kesuksesannya. Dan menurut saya, titik beratnya berada pada eksploitasi emosi yang menyaksikannya. Korea benar-benar menampilkan segala unsur yang mampu mengeksploitasi emosi dimulai dari perfilimannya hingga musiknya. Sehingga jangan heran, sampai ada kesan bahwa drama Korea “suka” membuat orang yang menonton menangis. Tampilan aktor aktris yang total, diiringi lagu pengiring yang menyayat hati serta ide cerita yang sengaja mengaduk-aduk perasaan, menjadi komposisi utama yang pengemasan. SBYpun demikian penerapannya. Ketika berbicara di publik, beliau sengaja menyusun kalimat-kalimat yang santun dan menyentuh, ditambah intonasi suara yang menenangkan serta mimik dan olah gerak tubuh lainnya yang mampu menambah kesan lebih dalam, dari kalimat-kalimat yang beliau lontarkan. Sebagai penyempurnanya, tentunya harus disajikan pada timing yang tepat. Sekali lagi, baik Korea dan SBY, pakarnya dalam urusan mempromosikan diri.

Jadi yang saya ingin sampaikan berkaitan korelasi kedua hal di atas, sebaiknya kita sebagai “pemirsanya” bijak-bijaklah dalam menyerap apa yang disampaikan lewat media apapun. Jangan sering-sering baper (bawa perasaan). Sadar tidak sadar, drama Korea & K-pop berperan penting dalam hal ini. Saya bukan ingin mengajak anda untuk memboikot produk-produk hiburan Korea. Tapi cobalah untuk mengkritisi semuanya dengan pikiran, bukan dominasi perasaan karena kebiasaan emosi yang diaduk-aduk drama sendu Korea. Jadi mari kita benar-benar mendahulukan akal pikiran yang jernih, terutama dalam memproses informasi politik di berbagai media, sekalipun dalam “pengemasan” menyayat hati pemirsanya. Jangan baper. Salam Seword.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SBY Juga Demam Korea"

Posting Komentar

Apa Komentar Anda?